Sunday, January 22, 2012

Kenapa Siwaratri dilaksanakan pada Prawaning Tilem Kepitu?

Kenapa Siwaratri dilaksanakan pada Prawaning Tilem Kepitu?
          

Sifat ketuhanan beserta segala kemampuan luar biasa yang menyertainya yang ada pada diri manusia semakin hari semakin dalam terkubur karena manusia telah lupa diri, manusia telah dirasuki sapta timira, tujuh kegelapan atau sifat kemabukan yaitu Surupa yang mana manusia mabuk akan rupa yang cantik dan tampan, padahal ini sifatnya hanya sementara, sekarang cantik maka lima atau sepuluh tahun lagi semua itu akan hilang, namun sangat banyak yang masih memburu hal tersebut. Dhana yaitu kita yang takabur dan mabuk oleh kekayaan, sekarang ini bisa dikatakan mereka yang punya uang yang berkuasa, namun inipun hanya semu, tidak ada uang yang bisa menjanjikan kebahagiaan. Guna artinya lupa diri karena merasa diri lebih pintar sehingga merendahkan orang lain, namun pengetahuan itu ibarat samudera yang tanpa batas. Kulina adalah orang yang merasa diri lebih tinggi kedudukannya karena faktor keturunan, Yowana yaitu lupa diri karena masa remaja, Kasuran yaitu sifat sombong karena mabuk kemenangan dan Sura karena mabuk minumam keras.
           Jika ada yang bertanya, kenapa Siwaratri dirayakan pada prawaning tilem kapitu? kenapa bukan sasih yang lain? Prawaning Tilem atau sehari sebelum tilem merupakan malam yang paling gelap dan sasih kepitu merupakan lambang sapta timira, jadi Ida Mpu Kuturan memilih Prawaning Tilem Kepitu sebagai hari perayaan Siwaratri untuk mengingatkan kita bahwa kita yang berasal dari Tuhan (siwa) telah masuk kejurang kegelapan (ratri) karena pengaruh tujuh sifat kemabukan (pitu).  Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa karena pengaruh ikatan duniawi yang kuat manusia telah melupakan asal muasalnya. Karena kuatnya keinginan duniawi maka manusia akan menemuai klesa yaitu kekotoran, menuju ke papa yaitu kegelapan jiwa dan pikiran yang pada akhirya akan bermuara kepada dosa.
Siwaratri merupakan momentum bagi kita untuk introspeksi diri, bertanya dalam keheningan jiwa, "betulkan saya adalah percikan sinar suci tuhan?" jika betul apakah sifat dan perilaku kita sudah mencerminkan hal tersebut?. Malam Siwaratri hendaknya dijadikan sebuah momentum untuk merenungkan diri karena sangat jarang kita punya waktu untuk berbicara dengan diri sendiri. Saat Siwaratri hendaknya kita sadari semua kekeliruan dan kebodohan kita sebagai manusia dan jadikan itu sebagai sebuah bara semangat untuk memulai kehidupan yang lebih baik sehingga terang yang nenjadi gelap bisa kembali bersinar terang.

Siwaratri dan Penebusan Dosa
           Banyak yang beranggapan bahwa Siwaratri adalah malam peleburan dosa, hal ini mungkin karena pemahaman yang kurang jelas tentang cerita sang lubdaka yang katanya adalah pembunuh namun terbebas dari dosa karena bergadang saat malam Siwaratri.  Dalam ajaran Hindu tidak ada peleburan dosa, dosa adalah hasil perbuatan (karma) yang harus tetap ditebus oleh akibat (phala). Dalam Siwarati umat manusia berusaha menyadarkan diri sehingga terhindar dari papa (kegelapan pikiran dan jiwa) seperti yang tertuang dalam puja tri sandya "Om papo'ham papakarmaham papatma papasambhavah"  yang pada akhirnya akan menghindarkan manusia dari segala perbuatan dosa

Sang Lubdaka  Seorang Pembunuh Binatang
           Banyak yang bertanya, bukankah membunuh itu dosa? Dalam ajaran Agama Hindu khususnya di Bali, memang diperbolehkan membunuh binatang. hal ini termuat dalam lontar Werthi Sesana. Ada dua hal yang diperbolehkan dalam membunuh binatang, yang pertama untuk upacara yadnya dan yang kedua untuk dimakan. Jika kita membandingkan dengan cerita Lubdaka, dalam sastra disebutkan bahwa Sang Lubdaka tersebut melakukan pembunuhan binatang hanya untuk dimakan, tidak untuk upacara yadnya. Dalam Bhagawadgita disebutkan bahwa segala sesuatu bersumber dari Tuhan, sehingga apapun yang kita makan harus kita persembahkan terlebih dahulu, jika makan tanpa persembahan maka itu sama artinya dengan kita mencuri dan itu adalah dosa. Dalam cerita dikatakan bahwa Sang Lubdaka berburu binatang tanpa melakukan persembahan, hanya mengutamakan nafsu untuk makan saja, sehingga Sang Lubdaka telah melakukan perbuatan mencuri. Oleh karena itu, umat Hindhu khususnya di Bali selalu diharuskan melakukan persembahan berupa yadnya sesa sebelum makan.
           Dalam sastra Hindu, banyak tatwa - tatwa yang terkandung dalam cerita yang dijadikan tuntunan dalam menjalankan kehidupan, namun demikian cerita atau tatwa tersebut harus di telaah dan dipahami lebih dalam sehingga maksud atau inti dari cerita itu dapat kita petik. Dalam cerita Lubdaka dikatakan bahwa Lubdaka adalah seorang pembunuh binatang namun saat bergadang pada malam Siwaratri sang Lubdaka mendapat sebuah pencerahan dari Tuhan. Sang Lubdaka sebagai pembunuh binatang, hal dapat kita artikan sebagai seseorang yang telah mampu membunuh sifat - sifat kebinatangannya, sehingga saat dia sadar (terjaga / tidak tidur) akan hakikatnya sebagai Siwa (setiap manuasia bersumber dari Tuhan / Siwa) yang telah diliputi maya dan kegelapan (ratri) maka saat itulah kesadaran akan kesejatian sebagai seorang manusia mulai bersinar. Dalam cerita para penglingsir kita, Lubdaka juga diartikan sebagai Lud (melepaskan) dan Daki (kekeotoran). Jadi Siwaratri merupakan sebuah momentum guna menyadarkan diri akan hakikat kita sebagai manusia yang sesungguhnya mempunyai sinar suci (Siwa) namun kita telah terbelenggu oleh kegelapan duniawi, dan kesadaran tersebut tidak hanya pada Hari Raya Siwaratri saja, tetapi setiap hari kita harus terjada dan sadar.

Pelaksanaan Siwaratri
           Pelaksanaan Hari Raya Siwaratri intinya lebih dipusatkan kedalam diri sehingga lebih ditekankan pada pelaksanaan brata dan tapa. Dalam Agama Hindu selalu ada tingkatan Nista, Madya dan Utama yang bisa dipilih sesuai kemampuan, begitu pula tingkatan brata dalam melaksanakan Siwaratri. Ada tiga jenis brata Siwaratri, Upayasa (puasa) yaitu brata tidak makan dan minum, Monabrata yaitu puasa tidak berbicara dan Jagra yaitu tidak tidur. Dalam tingkatan nista Upayasa dilaksanakan selama 12 jam yaitu mulai jam 6 sore sampai jam 6 pagi keesokan harinya. Tingkat Madya dilaksanakan selama 24 jam yaitu dari pagi hingga pagi keesokan harinya, dan tingkat Utama dilaksanakan selama 36 jam yaitu dari pagi hingga sore keesokan harinya. Begitupun tingkatan bratanya, tingkat nista hanya jagra, tingkat madya upayasa dan jagra, dan utama melaksanakan ketiganya. Mengawali hari raya Siwaratri sebaiknya dimulai dengan melukat dan bersembahyang di pagi harinya, lalu jalankan brata sesuai kemampuan dan malamnya lakukan perenungan akan hakikat dan jati diri kita sebagai manusia

BERKOMENTARLAH YANG SANTUN, JANGAN SPAM, AYO BERKOMENTARLAH DISINI. . .

Ditulis Oleh : I Gusti Ngurah Made Ardika ~ Mari Berbagi dan Belajar Bersama

Artikel Kenapa Siwaratri dilaksanakan pada Prawaning Tilem Kepitu? ini diposting oleh I Gusti Ngurah Made Ardika pada hari Sunday, January 22, 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca artikel ini. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

0 komentar:

Post a Comment

Mari kita saling berkomentar. Jika kalian suka dengan artikel ini, ayo kita "Share" untuk membagikan informasi ini kepada sobat yang lain agar lebih bermanfaat. Terima kasih, Salam Blogger . . .