Wednesday, January 18, 2012

Keanekaragaman hayati Indonesia

KEANEKARAGAMAN
1.      Menyebutkan ciri-ciri hewan tipe oriental dan Australia
a.       Oriental
·   mamalia yang berukuran besar
·   memiliki banyak jenis hewan primate
·   warna bulu burung kurang menarik dan tidak beragam
b.       Australia
·   Mamalia berukuran kecil
·   Tidakada primate
·   Warna blu lebih menarik dan beragam

2.      Contoh hewan yang ada pada daerah oriental, peralihan Australia
a.       Oriental
·   gajah Sumatra (Elephas maximus sumalrensi) 
·   Banteng (Bos Sondaicus)

b.       Australia
·   Kangguru pohon (Dendrolagus Ursinus)
·   Wawi Semak (Thylogale Bruijni)
c.       Peralihan
·   Komodo (Varanus Komodoensis) 
Anoa (Bubalus depressiconi)

3. 3 Flora malesiana memiliki tingkat keanekaragaman yang tinggi dan didominai oleh pohon-pohon yang aktif melakukan fotosintesis hal tersebut disebabkan oleh kondisi daerahnya yang terletak di daerah khatulistiwa kondisi daerh demikin merupakan kawasan hutan tropis dengan penetrasi  inar matahari sepanjang hari dan curah hujan yang tinggi


4.    4 Menurut istilah, garis Wallace adalah sebuah garis hipotetis yang memisahkan wilayah geografi hewan Asia dan Australasia. Bagian barat dari garis ini berhubungan dengan spesies Asia; di timur kebanyakan berhubungan dengan spesies Australia. Garis ini melalui Kepulauan Melayu, antara Borneo dan Sulawesi; dan antara Bali (di barat) dan Lombok (di timur). Kawasan Wallacea: meliputi wilayah Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, Sumba, Sumbawa, Lombok dan Timor. Memiliki hewan-hewan khas (terutama di Pulau Sulawesi) tidak sama dengan hewan oriental dan hewan Australia, misal: Anoa, burung Mako, kera hitam.Adanya garis ini juga tercatat oleh Antonio Pigafetta tentang perbedaan biologis antara Filipina dan Kepulauan Maluku, tercatat dalam perjalanan Ferdinand Magellan pada 1521. Garis ini lalu diperbaiki dan digeser ke Timur (daratan pulau Sulawesi) oleh Weber. Batas penyebaran flora dan fauna Asia lalu ditentukan secara berbeda-beda, berdasarkan tipe-tipe flora dan fauna. Garis ini lalu dinamakan "Wallace-Weber".

Garis Weber adalah sebuah garis khayal pembatas antara dunia flora dan fauna di paparan sahul dan di bagian lebih barat Indonesia. garis ini membujur dari utara ke selatan antara kepulauan Maluku dan Papua serta antara Nusa Tenggara Timur dengan Australia. Garis ini dicetuskan oleh Max Carl Wilhelm Weber atau Max Wilhelm Carl Weber (lahir di Bonn, 5 Desember 1852 – meninggal di Berbeek, 7 Februari 1937 pada umur 84 tahun) adalah seorang ilmuwan ahli ilmu hewan (zoologis) dan biogeografi berkebangsaan Jerman-Belanda. 

Weber secara khusus tertarik dengan kedalaman laut di selat Lombok, yaitu selat yang memisahkan antara Pulau Bali dengan Pulau Lombok, dimana sebelumnya Wallace menyatakan bahwa selat antara Pulau Bali dan Pulau Lombok menjadi tanda pemisah bagi fauna yang bercirikan Asia dan fauna yang bercirikan Australia. Tetapi penemuan Weber mengindikasikan bahwa kedalaman laut di Selat Lombok hanya sekitar 312 m yang berarti selat Selat Lombok tidak begitu dalam. Sehingga demikian setelah ditelaah lebih dalam lagi, terutama kondisi fauna di kepulauan Indonesia Timur khususnya di Celebes dan Maluku, menurut Weber, garis pemisah yang kuat antara fauna Asia dan Australia tidaklah ada, akan tetapi semakin menuju ke arah timur dari kepulauan nusantara, maka fauna bercirikan Asia semakin berkurang, dan sebaliknya, fauna yang bercirikan Australia semakin banyak. 

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Weber ini oleh sebagian peneliti dianggap telah memindahkan garis Wallace lebih ke arah timur yang mana kemudian garis ini dinamakan dengan “Garis Weber”, meski Weber sendiri tidak begitu menyetujui garis imajiner pemisah sebagaimana garis imajiner Wallace. Garis imajiner Weber dipopulerkan oleh Paul Pelseneer di tahun 1904. 

Dalam pandangan modern secara umum dapat diterima bahwa antara garis Wallace dan garis Weber merupakan zona transisi yang disebut “Wallacea”. Ilmuwan dapat memberikan gambaran bahwa garis Wallace antara Borneo dan Celebes merupakan ujung dari lempengan benua Asia, sedangkan garis Weber antara Celebes dan Kepulauan Maluku mencerminkan keseimbangan fauna antara fauna yang bercirikan Asia dengan Australia. Sekembalinya Weber dari penjelajahan di Hindia Timur, ia menerbitkan hasil penelitiannya dalam suatu publikasi ilmiah yang berjudul “Zoologische Ergebnisse einer Reise in Niederländisch Ost-Indien”.

Secara umum,titik utama penelitian Weber adalah tentang biologi kelautan yang difokuskan pada jalur migrasi invertebrate laut dan ikan-ikan pelagis (yang menghuni lapisan laut menengah dan atas). Dalam melakukan penelitia, ia bersama teman-temannya menemukan cukup banyak ikan-ikan dan hewan laut jenis baru, contohnya seperti kerang lentera (filum Brachiopoda), yang ditemukan di beberapa kepualauan di bagian timur nusantara seperti di daerah Banda, Ambon, Seram, Kei, Sulawesi, Sulu dan Selayar. Sedangkan menurut Tomascik (1997), ekspedisi Siboga di nusantara berhasil menemukan sebanyak 70 spesies dan 27 genera karang ahermatypic, termasuk 3000 spesies sponge (rumput laut). Selain itu peta batimetri (peta konfigurasi dasar laut) yang pertama untuk nusantara dihasilkan pula dari ekspedisi ini. 

5.      Flora dan Fauna  Endemik di Indonesia
a.       Flora :
·   Bunga raflesia  (Rfflesia arnodii)
·   Matoa (Pometia piñata)
·   Ratu Sulur Permata Hijau (Strongylodon Macrobotrys)
b.      Fauna : 
·   Burung Maleo (Macochepalon maleo) 
 ·   Komodo (Varanus komodoensis)
·   Badak Bercula satu (Rhinoceros Sondaicus )
6.      Flora langka di Indonesia
·   Matoa
·   Gandaria
·   Kepuh
·   Sawo kecik


7.       Factor kehilangan keanekaragaman hayati
a.       Hilangnya habitat dan fregmentasi
b.      Spesies-sepesies Esotik (spesies pendatang)
c.       Degradasi Habitat
d.      Eksploitas secara berlebihan

8.       Maanfaat keanekaragaman hayati
a.       Sebagai penghasil sumber daya Alam hayati
b.      Sebagai sarana Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam, Pendidikan, Rekrasi, dan wisata.
c.       Manfaat dari aspek social dan budaya masyarakat

9.       Upaya Melestarikan Keanekaragaman
a.       Usaha Perlindungan Melalui Konservasi
b.      Usaha perlindungan melalui peraturan Perundangan
c.       Usaha Perlindungan Melalui Keppres

10.   4 keunikan Keanekaragaman Hayati di Indonesia
a.       Indonesia memiliki kaya raya akan jenis-jenis flora dan fauna sekitar 17% sampai 25% spesies hutan tropic dunia ada di Indonesia
b.      Indonesia memiliki biodiversitas dengan keunikan tersendiri dibandingkan Negara-negara lain
c.       Manfaat keargaman spesies hewan dan tumbuhan bagi masyarakat diantaranya sebagai sumber daya hayati
d.      Beberapa usaha dilakukan pemerintah untuk melestarikan kenekaragaman hayati

BERKOMENTARLAH YANG SANTUN, JANGAN SPAM, AYO BERKOMENTARLAH DISINI. . .

Ditulis Oleh : Ngurah Dhika ~ Mari Berbagi dan Belajar Bersama

Artikel Keanekaragaman hayati Indonesia ini diposting oleh Ngurah Dhika pada hari Wednesday, January 18, 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca artikel ini. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

2 komentar:

Post a Comment

Mari kita saling berkomentar. Jika kalian suka dengan artikel ini, ayo kita "Share" untuk membagikan informasi ini kepada sobat yang lain agar lebih bermanfaat. Terima kasih, Salam Blogger . . .